Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Saat kau asyik tenggelam dalam bayanganmu sendiri yang tanpa rasa.
Yang setiap orang kau ukur menurut apa yang terbaik bagi dirimu dan caramu saja.
Mengesampingkan segala endapan rasa orang yang kau cintai dari bibir manismu.
Dan mungkin juga kau telah mengabaikan orang yang telah menjadikanmu sepertimu...
Ibumu!
Aku mencintaimu dari hatiku tak seperti dirimu dari mulutmu.
Aku menyandarkan segala rasa karena cinta bukan karena ego semata.
Aku selalu menjadikan cinta sebagai senjata mempertahankanmu tetap di dalam rasa.
Dengan cinta aku menghalau semua godaan putus asa dari mencintaimu setulus hatiku.
Tapi tetap aku tidak bisa lari dari kegalauan dan pertanyaan,
dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Sejatinya kau telah lelah dengan cinta dirimu yang membabi buta.
Namun kau malu untuk mengakui dan menghilangkannya.
Kau sungguh telah terasingkan dari keramaian cinta sesungguhnya.
Cinta dirimu hanya bisa kau nikmati untuk dirimu saja.
Orang lain hanya bisa melihatmu bagai musafir di padang dahaga.
Sekarat dalam cinta dirimu yang semu belaka.
Sanggupkah kau menghilangkan sejenak cinta diri?
Mampukah kau mengakui semua kegalauanku ini?
Jika iya...
Maka sekali lagi aku bertanya:
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Saat kau asyik tenggelam dalam bayanganmu sendiri yang tanpa rasa.
Yang setiap orang kau ukur menurut apa yang terbaik bagi dirimu dan caramu saja.
Mengesampingkan segala endapan rasa orang yang kau cintai dari bibir manismu.
Dan mungkin juga kau telah mengabaikan orang yang telah menjadikanmu sepertimu...
Ibumu!
Aku mencintaimu dari hatiku tak seperti dirimu dari mulutmu.
Aku menyandarkan segala rasa karena cinta bukan karena ego semata.
Aku selalu menjadikan cinta sebagai senjata mempertahankanmu tetap di dalam rasa.
Dengan cinta aku menghalau semua godaan putus asa dari mencintaimu setulus hatiku.
Tapi tetap aku tidak bisa lari dari kegalauan dan pertanyaan,
dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Sejatinya kau telah lelah dengan cinta dirimu yang membabi buta.
Namun kau malu untuk mengakui dan menghilangkannya.
Kau sungguh telah terasingkan dari keramaian cinta sesungguhnya.
Cinta dirimu hanya bisa kau nikmati untuk dirimu saja.
Orang lain hanya bisa melihatmu bagai musafir di padang dahaga.
Sekarat dalam cinta dirimu yang semu belaka.
Sanggupkah kau menghilangkan sejenak cinta diri?
Mampukah kau mengakui semua kegalauanku ini?
Jika iya...
Maka sekali lagi aku bertanya:
Dapatkah kau mencintai tanpa melukai?
Dedicated to: Mencintai Tanpa Melukai








5 comments
prok prok prok dapatkah kau mencintai tanpa melukai...? kewajaran tanpa disengaja. terkadang memang kita salah mengartikan cinta. yang selalu merasa harus memiliki semuanya.tanpa mau tahu yg dicinta juga punya jiwa yg pasti selalu berbeda.
tak kon ngumpul karo yoyik lembayung n neno warisman mengko. hehehe. siip sob mantab
@Sukadi
entah Sob..sebenarnya kalo pertanyaan itu diajuakan ke saya, saya juga bingung jawabnya..kayaknya "luka" juga satu paket ma cinta...haha. Thanks
@wisata Murah
Sisan njaluk tulung dungak e ben entok Novel anyar seko sing due hajatan Sob...haha. Hoalah...konco lawas e disebut2...thanks
mencintai tanpa melukai? nice poem
@Deeahzone
Thanks dee...hehe.
makasih ya mas udah dedicated... :)