Pasang Iklan | Download Mozilla Terbaru | Zodiak Hari Ini | Jadwal Bola TV
Google

Awwam Pernah Menyembah Berhala

Diterbitkan oleh pada hari Rabu, 10 Agustus 2011
Kisah AwwamAwwam Pernah Menyembah Berhala ---Hidup dimasa muda, apalagi jauh dari orang tua terkadang membuat Awwam kebablasan. Memiliki kebebasan dalam mengatur keuangan dan kebutuhan sendiri tanpa perlu di audit oleh orang tua secara langsung, sedikit banyaknya membuat Awwam selalu merasa jadi orang yang bebas dan sempurna.

Diawal-awal Awwam jauh dari orang tua, mencoba menggapai masa depan dengan kuliah di kota [yang katanya] pelajar, Awwam pernah sangat berkeinginan untuk memiliki sebuah sepeda motor yang di idam-idamkannya, walaupun dia sendiri sudah memiliki sepeda motor. Awwam juga pernah melakukan segala cara agar impiannya itu bisa terwujud. Karena memang masih sekolah dan tidak memiliki pekerjaan, maka tidak ada cara lain kecuali membuat proposal fiktif kepada orang tua tentang kebutuhannya.

Orang tua Awwam yang memang menanamkan niat dan harapan yang besar kepada putra sulungnya ini, walaupun hanya seorang supir angkot, berusaha dengan keras agar bisa memenuhi permintaan Awwam. Apalagi kebutuhan tersebut adalah kebutuhan kuliah Awwam yang bersifat pokok pastinya. Walau dengan terseok-seok, bahkan hingga menggadaikan BPKB angkotnya, orang tua Awwam berhasil mencukupi keinginan Awwam untuk memiliki sepeda motor baru yang tidak diketahui oleh orang tuanya.

Awwam sendiri setelah menerima dana ini merasa seperti orang paling beruntung di dunia. Setelah menjual sepeda motor lamanya, Awwam membeli sepeda motor barunya. Walau duitnya masih kurang pada waktu itu, ia masih sempat pinjam sama temennya Janine untuk mencukupinya.

Belum genap sebulan Awwam narsist dengan sepeda motor barunya, Awwam mendapat telp dari adiknya bahwa orang tuanya sakit keras dan sedang di opname di rumah sakit. Belum lagi angsuran gadai BPKB kendaraan bulan ini tidak jadi diangsur karena untuk pengobatan. Mendengar khabar demikian Awwam langsung pulang hari itu juga ke kampungnya di Sumatera.

Melihat keadaan orang tua yang terbaring lemas di rumah sakit sangat kontras sekali dengan bayangan Awwam sebelumnya tentang sosok orang tua "Mr. Disipline" selama ini. Awwam menjadi terenyuh. Ia ingat tentang kebohongannya kepada orang tua yang dia lakukan saat ingin memiliki sepeda motor. Dan mungkin karena naluri orang tua yang begitu tajam terhadap anaknya, orang tua Awwam-pun bertanya kepada Awwam dalam lemah sakitnya,
"Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan kepada Bapak. Jika iya, maka sampaikanlah selagi bisa agar tidak menjadi penyesalan dikemudian hari"
Mendengar perkataan demikian, Awwam-pun menangis tersedu-sedu sambil menceritakan kepada orang tuanya tentang kebohongan yang telah ia lakukan karena ingin memiliki sepeda motor. Awwam meminta maaf berulang-ulang kepada orang tuanya sambil menangis.

Orang tua Awwam terdiam sesaat sambil matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit. Kemudian dia berkata setelah tarikan nafas panjang,
"Awwam, sesungguhnya perbedaan antara yang kita inginkan dan yang kita butuhkan itu tipis sekali. Jika itu suatu kebutuhan maka wajib bagi kita untuk memenuhinya. Tapi jika itu suatu keinginan maka hawa nafsu-lah yang membentuknya. Dan yang kamu lakukan itu tidak lebih baik dari penyembah Latta dan Uzza. Jadi Bapak minta maaf karena telah menyebabkanmu menjadi penyembah berhala. Sedangkan dirimu, hanya Allah-lah tempat memohon ampunan"
Awwan terduduk dan lemas sejadi-jadinya. Ucapan yang belum pernah di dengar Awwam selama 12 tahun sekolah agama sebelumnya. Tapi dia mendengar ucapan itu dari seorang Bapak, seorang sopir angkot kolot yang gak tamat SD. Awwam syok dan mencoba berpikir tenang.

Setelah dua hari kepulangan Awwam, bapaknya diperbolehkan pulang karena kondisinya sudah semakin membaik, hanya perlu sedikit pemulihan. Dan disaat membereskan perlengkapan, Awwam sempat membuka dompet Bapaknya. Awwam kaget dan kembali menangis menyesali perbuatannya. Di dalam dompet Bapaknya Awwam menemukan sepucuk surat dari Om-nya di Yogya yang isinya menasehati Bapak agar tidak memanjakan anak dengan membelikan sepeda motor baru. Dan tanggal surat tersebut bertepatan dengan tanggal bapaknya masuk rumah sakit.

Tragis, ternyata Orang tua Awwam mengalami sakit keras setelah mengetahui anak kesayangannya membohonginya secara mentah-mentah.

Baca juga kisah Awwam' Journeys lainnya:
Ketika Awwam Membubarkan Penikmat Miras