Pasang Iklan | Download Mozilla Terbaru | Zodiak Hari Ini | Jadwal Bola TV
Google

Jangan Berputus Asa Dengan Ampunan Allah

Diterbitkan oleh pada hari Sabtu, 27 Agustus 2011
Jangan Berputus Asa Dengan Ampunan Allah | Awwam's Journeys ---Dalam kurun waktu tiga tahunan Awwam berada di jalanan, setidaknya ada beberapa nama yang sekarang sudah bisa menyantuni ummat lainnya baik secara spiritual maupun material karena terbuka mata hatinya setelah melihat dan bergaul dengan Awwam yang penuh masalah. Salah satunya adalah Binsar yang sekarang sudah jadi Tauke Kopi, atau sejenis pengepul hasil perkebunan kopi untuk di jual lagi di kota. Siapa sangka jika sosok Binsar yang di nilai oleh sekitarnya sebagai dermawan, baik dan ramah ini termasuk "Mapendos" ulung ketika masih "aktif" di sebuah terminal di daerah Jakarta Timur.

Seperti biasa setiap selesai shubuh, Awwam dan beberapa rekan lainnya termasuk Binsar mulai beraktifitas. Walaupun pada kenyataannya yang shalat cuma Awwam sendiri, tapi yang lainnya ikut bangun karena rejekinya pada waktu itu memang harus diambil saat shubuh. Pekerjaannya tidak lain adalah calo angkutan sayur di pasar induk. Pekerjaan ini jadi tidak baik karena memang dilarang oleh petugas setempat untuk mengurangi premanisme dan pungutan liar. Akhirnya, hanya waktu shubuh-lah pekerjaan ini bisa dilakukan saat para petugas masih ngorok dirumahnya masing-masing.

Suatu ketika nasib sial menimpa kelompok Awwam. Akibat suatu razia, mereka semua ditangkap dan terancam "deportasi" ke kampung halamannya masing-masing. Hal ini juga yang akhirnya menjadi ide bagus bagi Awwam untuk membuat rekan-rekannya jera dan pulang kampung karena mereka lebih dibutuhkan disana. Saat itulah Awwam tahu kalo Binsar ini ternyata hanya sebatang kara hidup dimuka bumi ini. Sejak kecil ia sudah ditinggalkan orang tuanya dijalan dan satu-satunya pengenal adalah identitas panti yang saat dikunjungi sudah berubah menjadi carefour. Apa boleh buat akhirnya Awwam menawarkan untuk mengajaknya pulang ke Kampung Awwam di Sumatera dan pekerjaannya adalah menjadi tukang kebun. Sayangnya tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Binsar.

Hampir satu tahun Awwam berpisah dengan Binsar hingga suatu ketika dapat info dari teman kalo Binsar terkapar dirumah sakit karena overdosis. Diketahui juga saat pengakuan Binsar dirumah sakit bahwa selama setahun perpisahannya dengan Awwam, banyak sekali pekerjaan haram yang telah dia lakukan. Dari pengedar obat terlarang hingga traffiking yang kesemuanya tidak dilakukan saat bergaul dengan Awwam. Bukan karena Awwam melarang, tapi karena Awwam tidak melakukannya sekaligus tidak melarang teman-temannya untuk melakukan perbuatan itu.

Akhirnya Awwam-pun menawarkan kembali kepada Binsar untuk pulang ke kampung halaman Awwam saja.
"Saya bukannya tidak mau Wam, tapi apakah pantas saya tinggal di tempat Om mu jika keadaan saya begini. Bukankah kamu pernah bilang jika Om-mu itu adalah pemuka agama setempat. Nah saya, jangankan shalat, agama saya-pun cuma seperti apa yang tertulis di KTP saja tanpa tahu maknanya" Terang Binsar.
"ehm..memang sulit sepertinya. Karena saya sendiri tidak diterima oleh Om-ku. karena kami memang berbeda pandangan. Tapi satu yang pastinya sama adalah tentang ampunan Allah yang tanpa batas bagi orang yang memohon ampun" Terang Awwam.
Dalam rasa lemasnya Binsar masih sempat bercanda,
"Hehe..Om lo aja gak bakalan nerima gue apalagi Allah?"
"Ah lo keliru Sob, kalo memang memang Allah gak ngasih lo kesempatan, mana mungkin lo masih bisa bernafas dan ngobrol sama gue sekarang?"
Terang Awwam dengan nada agak keras.

Mendengar hal ini akhir Binsar setuju untuk pulang ke kampung halaman Awwam dengan berbekal surat dari Awwam untuk Om-nya. Isi suratnya tidak lain adalah agar Om-nya menunjukkan jalan menuju Allah kepada Binsar.

Lama Awwam tidak mendengar kabar dari awwam hingga suatu sore ada telepon dari Binsar untuk minta maaf karena tidak bermaksud ngelunjak dengan menjadikan sepupu Awwam sebagai istri. Tapi niatan itu dilakukan karena permintaan Om Awwam. Binsar juga menceritakan bahwa Om Awwam bukannya tidak mau menerima Awwam. Melainkan justru menganjurkan Awwam untuk berdakwah diluar yang memang tidak mampu Om Awwam lakukan. Makanya, dengan kedatangan Binsar ke kampung dengan membawa surat Awwam, membuat Omnya sujud syukur laksana menerima paket syurga karena telah mendidik Awwam sejak kecil dan melihat hasilnya dengan kemunculan Binsar. Awwam hanya bisa meneteskan air mata mendengar pengakuan Binsar, walaupun ujung dari pembicaraan itu tetap saja,
"Parah lo..sepupu gue lo embat juga...!"