Pasang Iklan | Download Mozilla Terbaru | Zodiak Hari Ini | Jadwal Bola TV
Google

Rejeki Nomplok Dari Dermawan Riya

Diterbitkan oleh pada hari Rabu, 03 Agustus 2011
Awwam's Journeys ---Suatu ketika Awwam bertandang ke rumah salah satu sahabatnya diluar kota. Lebih tepatnya salah satu anak pejabat di daerah tersebut. Kebetulan saat itu bertepatan dengan musim pemilihan pejabat, dimana salah satu kontestannya adalah bapaknya sahabat Awwam.

Awwam berada di daerah tersebut sekitar semingguan. Banyak hal yang bisa Awwam pelajari dari disitu. Hasil pertaniannya cukup bagus terutama hasil padi. Kiri kanan rumah warga kebanyakan adalah sawah, walaupun rumah-rumah tampak mewah dan gedongan. Dari sekian banyak hal yang Awwam lihat dan menarik perhatian, ada satu yang mengusik hati Awwam, yaitu sosok bapak sahabatnya yang menurut Awwam merupakan korban situasi.

Menurut para tokoh masyarakat disitu, bapak sahabatnya ini termasuk salah satu tokoh yang disegani karena keberaniannya, dermawan karena kayanya, ganteng karena dia memiliki dua orang istri yang tinggal dalam satu rumah. Dan sahabat Awwam ini adalah anak dari istri tertua. Tidak hanya itu, selama Awwam berada disitu, beliau ini bisa digolongkan "hafidz" karena mampu mengingat ayat-ayat Allah dalam setiap kejadian yang terjadi setiap harinya. Apa yang ia lihat maka ia bisa menjelaskan ayat mana yang menerangkan apa yang ia lihat tersebut tanpa membolak-balik "mu'jam".

Pada saat itu bapak sahabatnya ini ditunjuk oleh sebagian warga untuk memimpin daerah tersebut. Dan yang namanya suksesi di republik ini, maka tidak akan jauh dari yang namanya cari muka dan riya'. Bagi-bagi janji dan mungkin juga bagi-bagi duit. Dan benar juga dugaan Awwam, bapak sahabatnya ini juga melakukan hal yang sama.

Dalam satu kesempatan duduk-duduk setelah Isya' di mushalla pribadinya, datanglah seorang ajudan yang membawa tas penuh berisi uang. Mungkin jumlahnya tidak sampai em-eman, tapi karena pecahannya 20 ribuan, maka akan sangat terlihat banyak. Awwam memberanikan diri bertanya,
"Banyak Pak, uang buat apa ya, kok pecahannya cuma 20 ribuan?" Tanya Awwam.
"Ini belum seberapa Wam. Untuk suksesi ini mungkin aku akan menghabiskan 100 kali lipat lagi dari jumlah ini. Dan uang ini hanya untuk para simpatisan sekedar uang bensin dan rokok" Terang bapak sahabatnya ini.
Karena Bapak ini termasuk orang yang ahli 'ibadah dan mu'allim, Awwam mencoba bertanya dengan pendekatan sunnah,
"Berarti itu shadaqoh, hibah atau apa ya Pak namanya? tanya Awwam.
Mendengar pertanyaan ini, Bapak sahabatnya ini agak ragu menjawabnya,
"ehm..ini sudah jadi tradisi Wam. Jadi agak susah jika disebut dengan shadaqoh atau hibah...."
"Riya' Pak!"
sambung Awwam tanpa menunggu bapak sahabatnya selesai bicara.
"Sebelum saya menanyakan ini, saya juga lagi mencari-cari istilah yang tepat menurut agama tentang hal ini. Dan saya yakin Bapak juga sepakat dengan istilah tersebut" Terang Awwam.
Dalam renungannya, Bapak sahabatnya tersebut bertanya,
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan suksesi ini Wam. Kalo daerah ini dipimpin oleh orang lain yang aku tahu bener bagaimana sisi buruknya, saya merasa berdosa?" bantahnya.
"Bukan suksesinya Pak, tapi untuk apa duit bapak yang akan dihabiskan untuk suksesi ini. Lagian yang memilih kita itu adalah ketentuan Allah. tinggal ikhtiarnya harus tepat dan tidak boleh meleset" Terang Awwam.
Bapak sahabatnya ini masih menimbang-nimbang dengan penuh keraguan ucapan Awwam. Amat sangat terlihat ada pergolakan bathin setelah mendengar ucapan Awwam. Dalam kebisuannya Awwam berkata,
"ehm..saya tadi ketemu salah satu warga yang akan menggiling padinya Pak. Masak katanya untuk menggiling padi harus keluar daerah yang jaraknya makan biaya. Padahal disini semuanya termasuk Bapak juga adalah petani?"
Mendengar ucapan Awwam tadi, secara serta merta ia berucap,
"Astaghfirullahal'adzim berulang-ulang sambil sujud syukur".
Sekitar satu bulan setelah kepulangan Awwam, dia mendapat khabar bahwa bapak sahabatnya ini terpilih menjadi pejabat di daerah tersebut. Dan yang bkin Awwam tertawa kecil adalah kutipan pidatonya saat kampanye,
"Sederek sekalian, saya tidak punya program apa-apa. Saya cuma punya uang satu tas ini yang rencananya akan saya bagikan ke setiap simpatisan saya. Tapi gak jadi. Mending saya bikin usaha baru penggilingan padi gratis untuk dikelola oleh siapapun yang terpilih nantinya. Sekian terima kasih"
Dan yang lebih bikin awam senang adalah diakhir surat ada beberapa digit nomor Wesel Post Instant yang Awwam sulap jadi "macan jepun"..

Ehm..yang terakhir namanya apa Wam [penulis]