Pasang Iklan | Download Mozilla Terbaru | Zodiak Hari Ini | Jadwal Bola TV
Google

Fenomena Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa 1918 - 2014

Diterbitkan oleh pada hari Kamis, 16 Januari 2014
Fenomena Banjir di Jakarta sepertinya masih saja terus berlangsung hingga tahun 2014 ini. Berbagai usaha yang dilakukan oleh Pemprov DKI sepertinya masih menemui jalan buntu. Jakarta tetap saja menjadi kota langganan banjir setiap tahunnya. Jika dibandingkan dengan tahun lalu sebelumnya, ternyata memang belum terlihat secara signifikan segala usaha yang dilakukan untuk mengatasi Fenomena Banjir Jakarta ini.
Fenomena Banjir JakartaJika bicara tentang Banjir Jakarta, tentunya kita ingat betapa terkejutnya masyarakat Indonesia melihat keadaan Ibukota Jakarta yang terendam air pada tahun 2007 lalu. Kaget ketika 80 jiwa harus melayang karena Banjir Jakarta. Namun semakin kesini, Fenomena Banjir Jakarta sepertinya sudah dianggap biasa, dan masyarakat makin menganggap banjir bukan hal yang aneh lagi.

Dari berikut ini adalah Fenomena Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa 1918 - 2014, seperti yang dikutip dari Merdeka.com

FENOMENA BANJIR JAKARTA 1918
Banjir pada 1918 di Jakarta ini juga melumpuhkan Batavia. Gubernur Jenderal Batavia Jan Pieterszoon Coen, sampai menunjuk arsitek khusus untuk menangani banjir ini. Banjir waktu itu merendam permukiman warga karena limpahan air dari sungai Ciliwung, Cisadane, Angke dan Bekasi. Akibat banjir, sarana transportasi, termasuk lintasan trem listrik terendam air. Dua lokomotif cadangan dikerahkan untuk membantu trem-trem yang mogok dalam perjalanan. Banjir pada tahun itu merupakan yang terparah dalam dua dekade terakhir.
FENOMENA BANJIR JAKARTA 1979
Banjir besar juga pernah melanda DKI Jakarta pada era Gubernur Tjokropranolo. Banjir pada 1979 di Jakarta menggenangi wilayah pemukiman dengan luas mencapai 1.100 hektare. Banjir yang disebabkan hujan lokal dan banjir kiriman itu merendam pemukiman penduduk. Sebelum tahun itu, banjir sebenarnya juga terjadi. Misalnya pada 1876 dan 1918, banjir pernah sampai merendam rumah penduduk, termasuk bekas benteng VOC di Pasar Ikan. Tapi banjir pada 1979, jauh lebih besar dengan jangkauan lebih luas.
FENOMENA BANJIR JAKARTA 1996
Pada 6-9 Januari 1996, Jakarta terendam setelah hujan dua hari. Sebulan kemudian, 9-13 Februari 1996, tiga hari hujan lebat dengan curah lima kali lipat di atas normal, merendam Jakarta setinggi 7 meter. Akibat banjir, 529 rumah hanyut, 398 rusak. Korban mencapai 20 jiwa, 30.000 pengungsi. Nilai kerusakan mencapai USD 435 juta. Banjir 2007 ini juga sampai ke pemukiman elite Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara yang pada waktu itu sedang dalam proses pembangunan.
FENOMENA BANJIR JAKARTA 2007
Banjir Jakarta 2007, terjadi pada era Gubernur Sutiyoso. Bencana banjir waktu itu menjadi salah satu yang terburuk. Bayangkan, 60 persen wilayah DKI terendam air dengan kedalaman mencapai 5 meter lebih di beberapa titik. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang tak tertampung. Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan Rp 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007
FENOMENA BANJIR JAKARTA 2013
Banjir besar di Jakarta yang menelan banyak korban jiwa terjadi pada Januari hingga Februari 2013 lalu. Bencana itu menyebabkan 20 korban meninggal dan 33.500 orang mengungsi. Banjir ini terjadi pada era Gubernur DKI Joko Widodo. Waktu itu, banjir sampai melumpuhkan pusat kota. Air menggenangi kawasan Sudirman, termasuk Bundaran Hotel Indonesia (HI) akibat tanggul Kali Cipinang, di dekat HI. Diperkirakan banjir menyebabkan kerugian hingga Rp 20 triliun. Sementara pengusaha, melalui Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, mengklaim terjadinya kerugian ekonomi lebih dari Rp 1 triliun. Lihat juga Koleksi Foto Banjir 2013 pada artikel Iskaruji dot com sebelumnya.
FENOMENA BANJIR JAKARTA 2014
Banjir Jakarta 2014 ini bisa disebut sebagai Fenomena Banjir Jakarta paling unik. Belum ada data angka pasti tentang kerugian yang ditimbulkan oleh Banjir Jakarta 2014 ini karena banjirnya masih saja terjadi setiap hari. Lucunya, baik birokrasi, pihak terkait, bahkan masyarakat sendiri menjadikan Banjir Jakarta 2014 bukan suatu bencana lagi, melainkan sebagai ajang komoditas politik yang semakin memanas menjelang Pemilu 2014. Saling menyalahkan dan berusaha menonjolkan diri ditengah kepungan banjir menjadi berita biasa yang selalu nongol di pemberitaan televisi.
Semoga ada sebagian dari kita yang menganggap Fenomena Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa 1918 - 2014 ini merupakan peringatan dari yang Maha Kuasa, bukan saja terkait dan terfokus kepada siapa memimpin dan bagaimana masyarakatnya...